Welcome to Gabriel Morientes // Style , Quality and Excellent
Nilai Situs Kami
@ SearchIndonesia












Navigation
home ::
archives ::
>blub ::"penggalan sebuah kisah"
>Amanda Nita ::"lady of the heart"
>DR-ZHIVAGO ::"duth strom"
>Ishak ::"you're already my hero!!sit back 'n enjoy the ride"
>Jogal ::"funkies junkies
>Keating ::"my dark d.."
>Kiding ::"what da fuckin' idea"
>Labilabi ::"labilabi web digestive "
>Lasak ::"hitam,biru,putih,straight line,kesederhanaan :)"
>Manix ::"bukan segumpal jari menulis"
>Miha ::"you won`t find it here"
>Phia ::"blue sky happines"
>Sherly ::"the rose"
>SiBegu ::"barley benni sirait"
>Sweeney ::"it`s all about love and faith"
>Tulen ::"forgiven but not forgotten"
>Wandy ::"dor...dor...dor...dor...!! binggo !!"
>Yohannes ::"sesepuh dewan raja 12:!3"
>Yves ::"charlot`e d|ary "

About

Name : Samuel Hasiholan Siahaan
Born : 03/11/1974 - Medan
Nickname : Gabriel Morientes
Email : presidennya@yahoo.com
Residence : Cibeunying Kaler, Bandung, Jawa Barat
Religion : Christ and Football
Height : 168-169 cm
Weight : 50 kg
Shoes Size : 40-41
Underwear : Crocodile XL
Music : Everything about Love Song
Film Characters : Cowboy and War
Hobbies : Nothing special
Idola : Ir. Soekarno (The 1st Indonesian President)

Aku...

Aku hanyalah seonggok daging yg di lalui oleh aliran darah, tapi tak berjiwa...
Aku berdiri di atas kedua kakiku, namun aku tersungkur...
Aku melihat dgn kedua mataku, namun sekelilingku gelap...
Aku berbicara dgn bibirku, namun aku bisu...
Aku meraih dgn kedua tanganku, namun aku tak mendapatkan...
Aku bernafas dgn hidungku, namun dadaku sesak...
Aku adalah seonggok daging dan darah yg tak berjiwa....

Recommended

Kurusetra
Adobe
Bola
Encyclopedia
Flash
Ms Front Page
Livescore
MP3 Download
Opera
Utopia
Web Design
Web Development
Math Course
Computer Course
Search For Math Proset
Tag Board

Sponsorship






Counter

DIE...

"Sudut ini cukup terasing dan sunyi utk tempat hidup;

tetapi lebih terasing dan sunyi lagi utk tempat mati...."

Info Games

PC Game Terlaris:
Championship Manager 4
Metal Gear Solid 2 Substance ( DVD )
Command & Conquer: Generals
Tropico 2: Pirate Cove
Praetorians
VietCong
Anno 1503 A.D: The New World
Casino Inc
Tom Clancys Rainbow Six 3: Raven Shield
Breath of Fire IV
Atlantis Underwater Tycoon

sumber www.butik2000.com

BOX OFFICES

1 (-) The Matrix Reloaded
2 (2) Daddy Day Care
3 (1) X2: X-Men United
4 (51) Down With Love
5 (3) The Lizzie McGuire Movie
6 (4) Identity
7 (5) Anger Management
8 (6) Holes
9 (7) A Mighty Wind
10 (9) Bend It Like Beckham
selengkapnya di www.movies.com

Music Hitlist Chart

1.I'm With You: Avril Lavigne
2.Cry Me A River: Justin Timberlake
3.All I Have: Jennifer Lopez Feat LL Cool J
4.Sorry Seems To Be The Hardest Word: Blue Feat Elton John
5.Can't Stop: Red Hot Chili Peppers
6.Mesmerize: Ja Rule Feat Ashanti
7.Gossip Folks: Missy Elliott Feat Ludacris
8.03 Bonnie & Clyde: Jay Z Feat Beyonce Knowles
9.All The Things She Said: t.A.T.u.
10.Beautiful: Christina Aguilera
11.Clocks: Coldplay
12.Strength Of A Woman: Shaggy
13.Picture: Kid Rock Feat Sheryl Crow
14.We Got Tonight: Ronan Keating Feat Lulu
15.Miss You Nights: Westlife
16.Like A Stone: Audioslave
17.Somewhere I Belong: Linkin Park
18.Feel: Robbie Williams
19.Disease: Matchbox Twenty
20.The One: Shakira

Weblog Entries:

When the day come...let`s die together...

Tuesday, July 19, 2005

:: samuel 12:29 AM

Husein, mengapa kamu disini ?

Saat itu malam sekitar pukul 19.00 wib. Lampu lalu lintas saat itu sedang berwarna merah. Sesosok tubuh kecil mendekat kearah seorang pemuda yang sedang berhenti di dekat lampu lalu lintas, diatas sepeda motornya. Lalu tanpa canggung tangan kecil itu menepuk-nepukkan kedua telapak tangannya, sambil menyanyikan sebuah lagu yang tak jelas liriknya karena anak itu lebih tepat disebut sedang bergumam.

”Saya beri kamu uang lebih dari yang kamu biasa dapat, kalo kamu mau bicara bentar aja dengan saya, sambil nunggu lampu ijo, mau?”, sapa pemuda itu pada anak kecil itu di sebuah perempatan lampu lalu lintas.
”Boleh a`a (sebutan abang dalam bahasa Sunda), mau ngomong apa a`?, jawab anak kecil itu.

”Siapa namamu dek?”
”Husein a`a”, jawab anak kecil itu singkat dengan suara yang datar.
”Kamu sekolah, dek?”
”Sekolah a`.”
”Kelas berapa?”
”Kelas lima a`.”
”Udah malam gini, sendirian gak takut?”, tanya pemuda itu lagi sambil menarik gas sedikit agar mesin motornya tidak mati.
”Nggak a`, udah biasa.”
”Kenapa nggak belajar?. Kan ini udah malam, atuh.”
Anak kecil itupun seperti sedang memikirkan sesuatu, sebelum menjawab.
”Nngg…cari duit a`, buat makan.”
”Buat makan? Masih punya orang tua?
”Masih a`.”
”Orang tua kamu tau kamu disini?”. (Pertanyaan yang bodoh rasanya, yang diucapkan pemuda itu).
”Tau a`”, jawab anak kecil itu dengan tetap menjawab singkat-singkat saja.
”Orang tua kamu kerja?”
”Kerja a`.”
”Kerja apa ?”
”Nnnggg…bapak ngumpulin barang-barang bekas di jalanan …”, jawab anak itu lirih, sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaan ini.
”Pemulung !”, pikir pemuda itu sambil membuat sebuah kesimpulan.

Pemuda itupun sekilas teringat pada sebuah ucapan dari seorang temannya, tentang seorang sales jalanan, yang kebetulan lewat.
”Kalo saya dikasih kerjaan seperti orang itu (sambil menunjuk ke arah sales tersebut) jelas nolak, itu sih bukan pekerjaan !”

”Hmmm … bukan pekerjaan, sementara anak ini nganggap pekerjaan bapaknya yang memulung itu sebuah kerja”, pikir pemuda itu setelah memikirkan dan membandingkan ucapan temannya dulu dengan ucapan anak kecil itu.
”Orang tua kamu nyuruh kamu supaya nyari duit disini, dek ?, tanya pemuda itu lagi dengan menghaluskan bahasa meminta-minta dengan kalimat ”nyari duit disini”.
”Iya a`.”
”Boleh tau kenapa dek, kamu disuruh nyari duit disini?
”Kata bapak, biar ada duit buat sekolah dan makan.”
”Hhhhh …, lagi-lagi buat makan”, pikir pemuda itu sambil menghela nafas.
”Tiap malam disini terus, dek?”
”Nggak a`, kadang di tempat lain, ikut temen-temen yang lain”, jawab anak kecil itu dengan kali ini menambahkan sedikit keterangan pada kalimatnya yang sebelumnya.
”Jadi kapan kamu belajarnya, atuh? Ntar gimana dong dengan pelajarannya di sekolah?”
Anak itu hanya diam tak menjawab pertanyaan kali ini, sambil memegang-megang sedikit bagian bajunya yang kelihatan kumal dengan kedua tangannya.
”Mulai jam berapa biasanya nyari duit disini, dek ?”
”Siang agak sorean a`”
”Sampe jam berapa ?”
”Ya sampai sepi aja a`.”
”Maksudnya sampe sepi kendaraan ?”
”Iya.”

Tiba-tiba dari arah yang lain melintas sebuah sepeda motor dengan suara knalpot yang bising memekakkan telinga, dengan kecepatan tinggi.
”He-eh !!! Kayak udah serasa jagoan aja !! Jatuh lu baru tau rasa!! ”, gerutu pemuda itu sambil mengiringi kepergian sepeda motor, dengan setengah menutup telinga kanannya.

”Nggak pulang dulu ke rumah?”
”Pulang dulu a`, buat makan”, jawab anak itu sambil lagi-lagi memberikan keterangan pada kalimat sebelumnya.
”Berarti rumah kamu deket sini dong.”
”Iya a`, di sana”, jawab anak itu sambil menunjuk ke sebuah arah daerah tempat rumahnya.
”Terus, duit yang kamu dapat dikasih ke siapa ?”
”Ke bapak, buat beli obat, buat sekolah, sama buat makan.”
”Lagi-lagi buat makan …”, pikir pemuda itu.
”Eh !? Buat beli obat ? Emangnya siapa yang sakit ?
”Ibu.”
”Lho, ibu sakit? Sakit apa?”
”Iya a`, nggak tau sakit apa. Ibu nggak pernah bilang, bapak juga”
”Udah berapa lama ibu sakit, dek?”, tanya pria itu sambil merogoh kantong menyiapkan uang untuk anak kecil itu, kalau-kalau lampu berubah hijau.
”Udah dua bulan a`”
”Dua bulan? Walah!” pikir pemuda itu dalam benaknya.
”Udah pernah dibawa ke dokter, dek?”
”Belum a`, cuman dikasih obat dari warung aja.”
”Kenapa gak dibawa ke dokter? Biar sembuh.”
”Nggak punya uang a`, kata bapak ke dokter mahal”
”Yaelah … segitu banyaknya dokter di negari ini, tapi ibunya sakit gak ada dokter”, pikir pemuda itu sambil menghela nafas.

Mahal? Ya iyalah seratus perakpun harus nyari seperti ini, harusnya yah gratis. Tapi mana ada yang gratis ? Emang bener, berobatnya gratis, tapi beli obatnya ? Terus surat keterangan miskinnya ?

”Kamu punya cita-cita? Tau kan cita-cita?”, tanya pemuda itu lagi sambil melirik ke arah lampu lalu lintas. Lampu masih merah…
”Punya a`”
”Mau jadi apa?”
”Dokter a`.”
”Kenapa mau jadi dokter?”
”Biar bisa ngobati ibu.”

Cita-cita yang luhur … Bukan masalah jadi dokter atau jadi apaan, tapi tujuannya jadi dokternya itu. Biar bisa ngobati ibu …

”Kamu percaya Tuhan, dek?”
”Iya a`”
”Kamu agama apa?”
”Islam a`.”
”Kamu rajin doa dan sholat?”
”Iya a`”
”Dek…(ucap pemuda itu dengan nada yang lebih lembut), berdoalah dan minta pada Tuhan, bilang sama Tuhan, ’Tuhan, saya tau, Engkau mengasihiku, berkati saya dan keluarga saya, berikan kekuatan buat kami sehingga kami dapat menjalani hidup yang Kau berikan ini, berikan kami jalan keluar supaya kami mendapatkan hidup yang lebih baik, sembuhkanlah ibu saya dari sakitnya. Tuhan, jagai kami supaya kami tetap ada di jalanMU.’ Mau kan berdoa seperti itu pada Tuhan?”, ucap pemuda itu agak panjang sambil diperhatikan anak kecil tersebut.
”Mau a`”, jawab anak itu dengan sedikit tertahan. Mata yang sayu itu terlihat sedikit membasah…
Sambil mendesahkan nafas dan tersenyum pemuda itu berkata,
”Jangan sedih atuh adek, kamu itu harus kuat, harus tabah. Tuhan Maha Adil dan Penyayang, kamu sekarang sedang dilihat Tuhan loh.”
”Ya udah dek, kayaknya udah mau ijo, saya kasih uang buat kamu. Pake untuk beli obat buat ibu yah. Dan jangan lupa belajar, kan mau jadi dokter, biar bisa ngobati ibu. Okeh?”
”Nuhun (terima kasih dalam bahasa Sunda) a`.”

(Belum juga dikasih uangnya, udah nuhun aja si adek ini)
Bener aja, lampu berubah ijo.
”Tinnn….tinnnn…tooott….tooottt…”, suara klakson kendaraan di belakangpun berbunyi.

”Sabar atuh ! Kayak gak punya kesabaran aja !” gerutu pemuda itu dalam hati sambil melihat mobil dibelakangnya. Untung cewek …
”Tinnn….tinnn….”, lagi-lagi suara klakson dari mobil itu. Bedebah !
Pemuda itupun memberikan selembar uang dua puluh ribuan, yang dijanjikan, yang telah dipersiapkan dari tadi, sambil mengelus rambut anak kecil itu.
”Saya pergi yah dek, udah ijo tuh, da adek… Tuhan memberkati”

Pemuda itupun pergi bersama sepeda motornya, melaju diantara kendaraan-kendaraan lain, termasuk mobil si cewek ga sabaran itu, membelah malam yang semakin dingin.
”Makasih banyak a`” jawab anak kecil itu setengah berteriak.

”Tuhan… Engkau yang menciptakan anak itu dan keluarganya. RencanaMU lah yang membuat mereka ada di bumi yang semakin penuh dengan dosa ini. Jangan biarkan mereka jauh dariMU, karena saat ini, hanya Engkaulah satu-satunya harapan mereka. Berikan mereka kekuatan dan ketabahan dalam menjalani hidup mereka. Berikanlah penghiburan dariMu bagi mereka, supaya berkurang beban yang harus mereka tanggung. Aku tak berhak menyalahkanMu atas kehidupan mereka, karena semua ini adalah kesalahan kami manusia, yang semakin sibuk dengan dirinya sendiri sehingga seringkali lupa untuk saling mengasihi dan saling memberi, yang bahkan tak sekali dua kali melupakan keberadaanMu. Aku tau dan yakin, tak begini kehidupan yang Engkau rencanakan semula pada saat penciptaan itu Kau mulai. Semua ini adalah akibat dosa kami para manusia, yang telah mengubah segala sesuatu yang indah menurut rencanaMu menjadi rusak. Tetapi Tuhan, bukankah Engkau Maha Pengasih dan Penyayang? Jangan biarkan kami untuk terlalu dalam hidup dalam dosa. Janganlah penghukuman atas dosa-dosa kami ini membuat kami menjadi semakin panik, bingung dan kehilangan arah, tetapi justru semakin mendekatkan kami padaMu ya Tuhanku.
Tuhan…, anak itu hanyalah satu dari sekian banyak anak-anak lain yang terpaksa harus bersahabat dengan jalanan dan persimpangan, yang harus menahankan panas dan dingin, yang harus menahankan siraman hujan, yang harus ikut berjibaku bagi keluarga mereka untuk sekedar bertahan hidup, dan yang harus setiap kali hidup menantang mau di jalanan. Aku yakin Tuhan, jika mereka diberikan pilihan, tentunya pilihan yang akan mereka pilih jauh dari kenyataan yang harus mereka jalani saat ini. Tapi, inilah yang harus terjadi…
Tuhan …, jagai mereka, lindungi mereka, kuatkan mereka, tabahkan mereka berikanlah penghiburan bagi mereka, dan berkatilah mereka. Karena mereka juga anak-anakMu sebagaimana diriku dan mereka-mereka yang telah Kau berikan kenikmatan hidup. Mereka juga berhak akan kasihMu ya Tuhan…Karena mereka bukan siapa-siapa, mereka adalah anak-anakMu ya Tuhanku …
Tuhan …, berikanlah juga bagi kami yang telah Kau berikan kenikmatan hidup, kerendahan hati, saling mengasihi, saling menyayangi, untuk mau saling berbagi dengan mereka-mereka yang bahkan seratus rupiah bagaikan sejuta rupiah bagi mereka. Dan berikanlah juga pada kami, yang telah kau berikan kenikmatan hidup ini, hati yang selalu mengucap syukur kepadaMu dan memuji serta memuliakanMu.
Jadilah kehendakMu, nyatalah rencanaMu, terpujilah namaMu.
Halleluya. Amin


Hanya sebuah tulisan kecil dan sederhana buat mereka-mereka yang yang memiliki kenikmatan hidup untuk mau memberikan hatinya pada mereka yang membutuhkan. Bukan uang, bukan benda yang mereka butuhkan, tapi kasih sayang, perhatian dan penghargaan, bahwa mereka adalah sama …
Jangan katakan itu salah mereka. Karena jika dicari siapa yang salah, maka yang salah adalah kita semua. Saya, anda, dia, kalian, mereka, Bapak Presiden, Bapak Menteri, Bapak Gubernur, hingga Bapak Kepala RT, orang tua anak itu, dan mungkin juga anak itu. Karena jika harus memaksakan diri mencari dimana awal kesalahan itu terjadi, maka kesalahan itu ada pada dosa manusia, yang membuat semua menjadi begini. Bukan kesalahan yang harus ditunjukkan pada mereka. Itu bukan jalan keluarnya. Tapi baiklah kita yang masih diberikan kemampuan untuk berbuat, bersama - bergandengan tangan dengan mereka, memperbaiki semua kesalahan. Semampu kita sebagai manusia. Tuhanpun pasti akan tersenyum dan berkata ”Tidak menjadi sia-sia manusia ini Ku-ciptakan …”

Jangan berikan pujian bagiku, jangan acungkan ibu jarimu bagiku, karena tulisan ini bukanlah untuk mengharapkan pujian, apalagi darimu. Aku tak mengharapkan sedikitpun pujian darimu! Jika memang harus ada sebuah pujian, maka satu-satunya pujian itu datangnya dari Tuhan yang menciptakanku.



:: samuel 12:23 AM


Discourse on Method
(Cogito, ergo sum – I think, therefore I am)
Rene Descartes (1596-1650)

Sebuah filosofi dari Descartes tentang keberadaanya yang sekaligus membantah keberadaan Tuhan. Dikenal dengan kalimat ”Cogito, ergo sum” (I think, therefore I am – Aku berpikir, maka aku ada). Tuhan, dalam pandangan Descartes dibentuk dari dua buah unsur (yang menciptakan segala kenyataan). Unsur pertama adalah unsur berpikir, pikiran. Dan unsur yang kedua adalah unsur nyata, yaitu tubuh. Sehingga Tuhan dalam filosofi Descartes adalah ”tubuh yang berpikir”.

Sebuah filosofi yang mendapat banyak pertentangan dari berbagai kalangan, namun tidak sedikit juga yang mendukung, sehingga lahirlah suatu aliran yang menamakan dirinya ”aliran rasionalis” (rasionalism). Salah satu ilmuwan yang menentang keras filosofi Descartes ini adalah Blaise Pascal dalam sebuah pandangannya tentang Descartes ” I cannot forgive Descartes; in all his philosophy he did his best to dispense with God. But he could not avoid making Him set the world in motion with a flip of His thumb; after that he had no more use for God”.

Then examining attentively what I was, and seeing that I could pretend that I had no body and that there was no world or place that I [was] in, but that I could not, for all that, pretend that I did not exist, and that, on the contrary, from the very fact that I thought of doubting the truth of other things, it followed very evidently and very certainly that I existed; while, on the other hand, if I had only ceased to think, although all the rest of what I had ever imagined had been true, I would have had no reason to believe that I existed; I thereby concluded that I was a substance, of which the whole essence or nature consists in thinking, and which, in order to exist, needs no place and depends on no material thing; so that this “I”, that is to say, the mind, by which I am what I am, is distinct entirely from the body, and even that it is easier to know than the body, and moreover that even if the body were not, it would not cease to be all that it is.


After this, I considered in general what is needed for a proposition to be true and certain; for, since I had just found one which I knew to be so, I thought that I ought also to know what this certainty consisted of And having noticed that there is nothing at all in this, I think, therefore I am, which assures me that I am speaking the truth, except that I see very clearly that in order to think one must exist, I judged that I could take it to be a general rule that the things we conceive very clearly and very distinctly are nevertheless some difficulty in being able to recognize for certain which are the things we see distinctly.


Following this, reflecting on the fact that I had doubts, and that consequently my being was not completely perfect, for I saw clearly that it was a greater perfection to know than to doubt, I decided to inquire whence I had learned to think of some thing more perfect than myself; and I clearly recognized that this must have been from some nature which was in fact more perfect. As for the notions I had of several other things outside myself, such as the sky, the earth, light, heat and a thousand others, I had not the same concern to know their source, because, seeing nothing in them which seemed to make them superior to myself. I could believe that, if they were true, they were dependencies of my nature, in as much as it. One perfection; and, if they were not, that I held them from nothing, that is to say that they were in me because of an imperfection in my nature. But I could not make the same judgement concerning the idea of a being more perfect than myself; for to hold it from nothing was something manifestly impossible; and because it is no less contradictory that the more perfect should proceed from and depend on the less perfect, than it is that something should emerge out of nothing, I could not hold it from myself; with the result that it remained that it must have been put into me by a being whose nature was truly more perfect than mine and which even had in itself all the perfection of which I could have any idea, that is to say, in a word, which was God. To which I added that, since I knew some perfections that I did not have, I was not the only being which existed (I shall freely use here, with your permission, the terms of the School) but that there must of necessity be another more perfect, upon whom I depended, and from whom I had acquired all I had; for, if I had been alone and independent of all other, so as to have had from myself this small portion of perfection that I had by participation in the perfection of God, I could have given myself, by the same reason, all the remainder of perfection that I knew myself to lack, and thus to be myself infinite, eternal, immutable, omniscient, all powerful, and finally to have all the perfections that I could observe to be in God. For, consequentially upon the reasonings by which I had proved the existence of God, in order to understand the nature of God as far as my own nature was capable of doing, I had only to consider, concerning all the things of which I found in myself some idea, whether it was a perfection or not to have them: and I was assured that none of those which indicated some imperfection was in him, but that all the others were. So I saw that doubt, inconstancy, sadness and similar things could not be in him, seeing that I myself would have been very pleased to be free from them. Then, further, I had ideas of many sensible and bodily things; for even supposing that I was dreaming, and that everything I saw or imagined was false, I could not, nevertheless, deny that the ideas were really in my thoughts. But, because I had already recognized in myself very clearly that intelligent nature is distinct from the corporeal, considering that all composition is evidence of dependency, and that dependency is manifestly a defect, I thence judged that it could not be a perfection in God to be composed of these two natures, and that, consequently, he was not so composed; but that, if there were any bodies in the world or any intelligences or other natures which were not wholly perfect, their existence must depend on his power, in such a way that they could not subsist without him for a single instant.


I set out after that to seek other truths; and turning to the object of the geometers [geometry], which I conceived as a continuous body, or a space extended indefinitely in length, width and height or depth, divisible into various parts, which could have various figures and sizes and be moved or transposed in all sorts of ways—for the geometers take all that to be in the object of their study—I went through some of their simplest proofs. And having observed that the great certainty that everyone attributes to them is based only on the fact that they are clearly conceived according to the rule I spoke of earlier, I noticed also that they had nothing at all in them which might assure me of the existence of their object. Thus, for example, I very well perceived that, supposing a triangle to be given, its three angles must be equal to two right-angles, but I saw nothing, for all that, which assured me that any such triangle existed in the world; whereas, reverting to the examination of the idea I had of a perfect Being. I found that existence was comprised in the idea in the same way that the equality of the three angles of a triangle to two right angles is comprised in the idea of a triangle or, as in the idea of a sphere, the fact that all its parts are equidistant from its centre, or even more obviously so; and that consequently it is at least as certain that God, who is this perfect Being, is, or exists, as any geometric demonstration can be.


Tuesday, May 10, 2005

:: samuel 11:07 PM

Anak kecil di Baso Enggal itu

Aku teringat kepada 4 hari yang lalu tentang seorang anak kecil yang menjual koran di depan Baso Enggal jalan Burangrang Bandung, yang setahun yang lalu pun telah kulihat disana. Saat itu malam sepulang dari seminar doa di Kings Shopping Centre sambil naik motorku, mampir ke tempat jual baso itu (mumpung masih tanggal muda, disempat-sempatkan makan enak).
Rasanya iba melihat anak itu…padahal waktu itu malam dan hujan deras. Tapi dia bela-belain jual koran disana. Hati kecilku (emangnya hati ada yang gede ada yang kecil ?) sempat berpikir (yang mikir itu otak, bukan hati!) untuk mengajak dia makan disana bersamaku. Tapi, ntah kenapa nggak kulakukan. Padahal saat itu uangku lagi banyak (maklum…tanggal muda…). Bahkan sangking banyaknya, ngeluarin dompet dari saku celana jadi susah (emangnya berapa banyak sih? Sombong banget!). Untungnya aku masih melakukan tindakan yang benar, yang setidaknya untuk memuaskan perasaanku.
Aku beli sebuah korannya, dan aku bayar dengan beberapa lembar uang ribuan. Ntah berapa banyak, aku gak tau pasti…tapi kayaknya yang kukasih itu enam ribu perak. Dan belakangan…sepulang dari tempat itu, aku sempatkan ngasih ribuan-ribuan hasil kembalian dari makan baso itu kepadanya. Aku pikir-pikir, aku gak akan langsung kelaparan hanya karena memberi beberapa ribu padanya, tapi buatnya mungkin saja itu sudah bisa mengenyangkannya.
(Sekarang masalahnya apa?). Hmmm…begini…aku rada-rada protes pada kerasnya kehidupan ini. Kan bukan salah anak itu sehingga dia menjadi seperti itu…Kalau dicari-cari siapa yang salah, bisa saja kedua orang tuanya, yang waktu mudanya gak mikirin tentang masa depan yang layak. Nah! Kalo bukan salah anak itu…lalu kenapa dia harus seperti itu???!!! Kenapa dia harus terlahir dari orang tua yang melarat?? (lha…emangnya orang melarat gak bole punya anak apa? Dan…hey!! Jangan coba-coba nyalahin Tuhan yah!) Okelah…mari katakan itu sudah takdir anak itu. Sekarang aku hanya berharap dan berdoa, semoga anak itu tidak pasrah pada keadaannya dan mau berusaha untuk berkembang (Tuhanku…berkatilah dan bimbinglah dia, anak yang Engkau titipkan kepada sepasang manusia).
Nah…sekarang kalo aku gak bisa nyalahin siapa-siapa tentang keadaannya, maka sekarang aku mau menyalahkan pihak lain! (siapa?). Mereka-mereka yang menjadi anak-anak yang tidak tahu diri! Anak-anak yang terlahir dari sepasang manusia berduit, tetapi hanya mikirin enaknya saja (emang siapa yang mau mikir susah?). Anak-anak yang doyannya ngelawan orang tuanya yang sanggup memberinya apa saja yang diminta. Anak-anak yang sombong hati, karena hidup dari keluarga yang berada. Anak-anak yang bahkan sudah disekolahkan di sekolah elit, tapi taunya cuman nyontek dan nyontek. Anak-anak yang bisanya cuman ngabisin pulsa, yang kalo abis tinggal minta saja. Anak-anak yang sudah dibelikan Pentium 4, tapi hanya dipakai untuk main game saja. Anak-anak yang ngakunya mau beli buku, ternyata duitnya cuman dipake buat ngasih makan "anak orang lain" di pusat-pusat perbelanjaan. Anak-anak yang sudah dibelikan buku-buku pelajaran, tapi yang dibaca cuman komik-komik Jepang. Anak-anak yang sudah dibelikan motor, tapi sukanya kebut-kebutan dan menerobos lampu yang sudah atau sedang merah. Anak-anak perempuan yang sudah dibelikan baju-baju mahal dan sopan, tapi yang dipakai malah baju yang ngasih "diskon" pusarnya kepada orang lain. Anak-anak yang sudah dikasih kesempatan les mahal-mahal, tapi malah pergi jalan-jalan pada saat jam lesnya. Dan lain-lain, dan lain-lain…(ck..ck..ck…memang anak-anak gak tahu diri dan gak tau di untung yah!)
Sementara…anak kecil itu…yang dia gak tahu kriteria apa yang dipakai sehingga dia terpilih menjadi anak orang melarat, harus menahankan dinginnya malam, derasnya hujan, sambil melindungi koran yang harus dijualnya supaya tidak rusak karena hujan Supaya sepulangnya dia menjual koran lalu memberikan hasil penjualannya kepada kedua orang tuanya. Supaya dengan uang hasil penjualannya itu, dia berharap bisa sekolah terus (ehh?? Jangan-jangan dia gak sekolah karena gak punya duit!). Kasihan…(hhhh…*mendenguskan nafas*), hanya itu yang bisa kukatakan dan kupikirkan…Hanya memberi sedikit lembaran-lembaran uang ribuan yang bisa kulakukan. Semoga dengan pemberian itu dia tidak menjadi anak yang hanya mengharapkan belas kasihan orang lain. Semoga dia menjadi anak yang tangguh, ulet, dan selalu ingat kepada Penciptanya, baik suka maupun duka. Semoga kelak engkau menjadi orang yang berhasil dek…Dan jika Tuhan memberikan jalan keberhasilan padamu, engkau tidak menjadi lupa tentang masa lalumu. Engkau tidak memandang hina seorang anak yang menggantikan tempatmu di baso Enggal di masa yang akan datang. (Amien).



:: samuel 10:52 PM

So What Gitu Loh!

Gila (sedikit kaget, gak banyak-banyak amat)! Umur sudah mencapai kepala 3 (30 tahun), koq rasanya aku belum kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat ini (mengernyitkan dahi)? Aneh rasanya. Apa karena selama ini aku sudah beberapa kali berganti-ganti pacar (beh?!playboy?)? Sehingga sekarang ini aku udah nggak merasakan apa-apa lagi tentang hubungan antara pria dan wanita?

Memang saat ini aku juga belum terpikirkan untuk mencari pacar lagi. Ntah kenapa! Dari beberapa kali berhubungan dengan wanita, sepertinya buat aku nggak ada yang sesuai dengan keinginanku. Sehingga semua hubungan itu harus berakhir hanya pada tingkat pacaran saja. Hmmm… kalo dipikir-pikir tentang semua wanita yang pernah dekat denganku, mungkin hanya satu yang mendekati keinginanku, yah…dari dia yang pertama kali aku mengenal tentang perasaan cinta (ngingat tentang dirinya). Sampai-sampai gelang pemberian darinya hingga sekarang tak pernah lepas dari tanganku, bahkan untuk sekedar mandi sekalipun! Gelang ini (sambil liat gelang ditanganku ini) sudah 11 tahun setia menemaniku. 11 tahun!!! Udah bagaimana yah kabar dia (teringat kembali kepada dirinya)? Bahagiakah dia? Semoga… Mungkin saat ini dia sedang berada di tengah-tengah keluarga yang dibangunnya bersama pria yang beruntung itu.
Ahh…sudahlah…tak perlu mengingat-ngingat lagi tentang cinta itu…Semua salahku…salahku! Ntah kenapa aku harus mendengar kata-kata dari temanku yang membuat aku menutup perasaan kepadanya, ntah kenapa aku harus tertarik pada wanita lain yang belakangan aku tahu, tidak lebih baik darinya. Ahh…memang penyesalan selalu datang belakangan (ya iyalah…kalo penyelesalan datang duluan, itu bukan penyelesalan lagi namanya). Ah sudahlah…aku berharap dia bahagia…

Angin, sampaikan salamku padanya yah…(emangnya tukang pos?!).
Semoga kelak aku bisa mendapatkan wanita yang sesuai dengan keinginanku, karena aku tak pernah sekalipun berharap untuk hidup sendirian saja. Saat ini yang kulakukan adalah bagimana supaya aku bisa sukses dalam rencana-rencana dan tujuanku (lha?! Apa menikah dan punya keluarga nggak termasuk rencana dan tujuan??). Ntahlah…pokoknya sekarang aku fokus pada pekerjaan dan rencanaku untuk menulis beberapa buku pelajaran matematika dalam tahun ini (duh! Jadi ingat pada ketikan-ketikan yang seabrek-abrek itu). Perkara pacaran dan menikah, nantilah itu. Kalau memang Tuhan telah menyediakan jodoh buatku, nanti juga datang sendiri lah. Wanita mana sih yang gak mau sama pria yang berhasil dan mampu menjadi tiang keluarga? Jadi…sekarang ini aku harus bisa menjadi pria yang berhasil (ukuran keberhasilan itu apa sih?lah kalo udah kakek-kakek dulu baru berhasil, apa ada wanita yang mau?). Nggak sampai kakek-kakek lah…Lagian kalau memang garis hidupku adalah hidup sendiri, apa yang bisa kubuat?

Memang sih, sebagai pria aku pasti pernah selera melihat para wanita yang berseliweran di depanku, ntah pada saat aku dimana. Tapi yang melihat itu kan, aku sebagai seorang pria, yang punya hasrat dan punya gairah. Nah…aku gak mau memilih wanita hanya karena hasrat dan gairah. Karena hasrat dan gairah itu hanya sebatas mata melihat, bukan hati. Wanita yang kelak jadi pendampingku haruslah wanita yang mampu menjadi co-pilotku yang tangguh. Mampu jadi ibu yang bijaksana buat anak-anakku. (emangnya kriteria wanita buatku itu seperti apa?). Ah…gak perlu dituliskanlah, nanti jadi seperti kontak jodoh aja.

Yah sudahlah…saat ini yang bisa kukatakan hanya…emangnya kalo udah punya pendamping…so what gitu loh!!!


Thursday, January 06, 2005

:: samuel 8:29 AM

RENCANA KESELAMATAN ALLAH YANG SEDERHANA.

Hai Kawan! Saya akan mengajukan pertanyaan yang paling penting di dalam kehidupan ini. Kebahagiaan dan kesusahan Anda dari sekarang sampai selama-lamanya akan bergantung pada jawaban Anda. Pertanyaannya adalah: Apakah Anda sudah diselamatkan? Ini bukan pertanyaan tentang perbuatan baik Anda, bukan juga apakah Anda anggota gereja, tetapi apakah Anda sudah diselamatkan? Apakah Anda yakin akan masuk surga setelah meninggal dunia. Allah mengatakan bahwa untuk dapat masuk ke surga, Anda harus dilahirkan kembali. Dalam Yohanes 3:7, Yesus berkata kepada Nikodemus, "Kamu harus dilahirkan kembali." Dalam Alkitab, Allah memberikan rencana bagaimana caranya untuk dapat dilahirkan kembali yang berarti diselamatkan. Rencana-Nya sangat sederhana! Anda dapat diselamatkan hari ini juga. Bagaimana caranya? Pertama-tama kawanku, Anda harus sadar bahwa Anda adalah orang berdosa. "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah" (Roma 3:23). Karena Anda adalah orang berdosa, Anda dipastikan akan mengalami maut. "Sebab upah dosa ialah maut" (Roma 6:23).

Pertama.

Ini artinya pemisahan kekal dari Allah di dalam neraka. "... manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi" (Ibrani 9 : 27). Tetapi Allah sangat mengasihi Anda, Dia telah memberikan Anak-Nya yang tunggal, Yesus, untuk menanggung dosa Anda dan mati untuk Anda. ". . . Dia (Yesus) yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah" (2 Korintus 5 : 21). Yesus harus meneteskan darah-Nya dan mati. "Karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya..... " (Imamat 17 : 11). "...tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan" (Ibrani 9 : 22). "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa" (Roma 5:8).
Meskipun kita tidak dapat mengerti bagaimana caranya, Allah berkata bahwa dosa-dosa saya dan Anda telah dibebankan pada Yesus dan Ia mati untuk kita. Dia dijadikan pengganti kita. Ini adalah kebenaran. Allah tidak dapat berbohong, Kawanku, "...sekarang Allah memberitakan kepada manusia, bahwa di mana-mana semua mereka harus bertobat" (Kis 17:30).

Kedua.

Pertobatan ini adalah perubahan cara berpikir di mana seseorang mengaku dan setuju bahwa ia orang berdosa di hadapan Allah dan mengaku serta menerima apa yang telah dilakukan Yesus di atas kayu salib untuk kita semua. Dalam Kisah Para Rasul 16 : 30-31, penjaga penjara Filipi bertanya kepada Paulus dan Silas :..... Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat supaya aku selamat?" Jawab mereka : Percayalah kepada Tuhan Yesus Knstus dan engkau akan selamat..... "
Percayalah pada-Nya sebagai seseorang yang telah menanggung dosa-dosa Anda, dan mati menggantikan Anda, dikuburkan, dan dibangkitkan kembali oleh Allah. Kebangkitan-Nya memastikan bahwa orang percaya dapat yakin akan kehidupan kekal saat menerima Yesus sebagai Juruselamat. "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya " (Yohanes 1:12).
"Sebab barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan" (Roma 10:13). Barangsiapa dalam kutipan di atas termasuk Anda. Akan diselamatkan bukan berarti mungkin, atau dapat, tetapi pasti diselamatkan.
Ketiga.

Tentu Anda sadar bahwa Anda seorang berdosa. Saat ini juga, di manapun Anda berada, bertobatlah, angkatlah hatimu pada Allah dalam doa. Dalam Lukas 18 :13, seorang yang berdosa berdoa : ... Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini. " Berdoalah :
"Ya Allah,aku tahu bahwa aku adalah orang berdosa.Aku percaya bahwa Yesus telah menggantikanaku waktu Dia mati di kayu salib.Aku percaya bahwa penumpahan darah-Nya,kematian-Nya,penguburan-Nya dan kebangkitan-Nya adalah untuk aku.Sekarang aku menerima-Nya sebagai Juruselamat-ku.Terima kasih atas pengampunan dosa-dosaku,pemberian keselamatan dan kehidupan yang kekal,karena rahmat dan anugerah-Mu.Amin."

Terimalah Firman Allah dan dapatkanlah keselamatan daripada-Nya dengan iman. Percayalah, maka Anda akan diselamatkan. Bukan gereja, perkumpulan atau pun perbuatan-perbuatan baik yang menyelamatkan Anda. Ingatlah, hanya Allah yang dapat melakukan karya keselamatan, secara menyeluruh! Rencana keselamatan Allah yang sederhana adalah: Anda orang berdosa.

Keempat.

Apabila Anda tidak percaya dalam Yesus yang telah mati menggantikan Anda, pasti Anda akan tinggal untuk selama-lamanya di dalam neraka. Jika Anda percaya kepada-Nya sebagai Juruselamat yang telah disalibkan, dikuburkan serta dibangkitkan, Anda menerima pengampunan atas segala dosa dan karunia keselamatan kekal karena iman. Anda berkata, "Tidak mungkin semudah itu !" Ya, memang semudah itu ! Ini sesuai Alkitab. Ini adalah rencana Allah.
Hai kawan, percayalah pada Yesus dan terimalah Dia sebagai Juruselamat-mu hari ini juga. Kalau rencana-Nya masih belum jelas bagi Anda, bacalah tulisan ini berulang-ulang tanpa berhenti sampai Anda mengerti. Jiwa Anda lebih berharga daripada seluruh dunia. "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia kehilangan nyawanya?" (Markus 8 : 36). Anda harus benar-benar pasti akan keselamatan pribadi ini. Apabila Anda kehilangan jiwa, Anda akan kehilangan surga dan kehilangan segala-galanya. Saya mohon dengan sangat, biarkanlah Allah selamatkan Anda saat ini juga! Kuasa Allah akan menyelamatkan Anda, tetapkan keselamatan Anda dan mungkinkan Anda untuk hidup sebagai orang Kristen yang selalu menang atas pencobaan.

Kelima.

"Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." (1 Korintus 10:13).
Jangan tergantung pada perasaan Anda. Perasaan itu selalu berubah. Berdirilah pada janji-janji Allah. Janji-janji Allah tidak pernah berubah. Setelah Anda selamat, ada tiga hal yang perlu dilakukan setiap hari untuk pertumbuhan iman:
Berdoa-Berbicara kepada Allah. Bacalah Alkitab-Biarkan Allah berbicara. Bersaksi-Anda berbicara bagi Allah.
Anda perlu dibaptis sesuai kepatuhan Anda pada Tuhan Yesus Kristus sebagai kesaksian pada khalayak ramai atas keselamatan Anda, dan kemudian bergabung secepatnya dengan gereja yang menjunjung tinggi Alkitab sebagai Firman Allah. "Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita. ....... " (2 Timotius 1 : 8).
"Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Aku juga akan mengakuinya di depan Bapa-Ku yang di sorga" (Matius 10:32).


One liners
Let`s Die Together

Name

URL or Email

Messages(smilies)

Photos

..:: Search for Hands of GOD ::..


..:: Look For GOD Kingdom ::..


..:: In The Name of GOD ::..


-Tips and Tricks for WINDOWS USER!You can find it HERE.And you can see for the other tips at this link.

-Driverguide.com.Solution for your computer drivers.

-Becoming a Flash Master.Clik these links below:

www.actionscript.org and www.flashkit.com.

-HTML Tutorial for your web page.You can build up your web page by click this link.Indonesia languange!

Web Space GRATISAN. 50 MB of web space for your web presence + PHP4 MySQL databases will be accessible during a month

Doneeh.com.Layanan WEB TOOLS gratis.Salah satu fasilitasnya adalah FITUR SMS yg dpt dibuat di halaman web sendiri.

Computer Tutorial.Agak2 error komputer, coba buka-buka site ini.

Free Proxy List.DOWNLOAD! (Update).

Installation Windows XP
.Similar Pages...
FLORENTIA VIOLA dalam berita

Find yourself...

"Ada yang tersembunyi, pergilah mendapatkannya;

Ada yang hilang di balik pegunungan itu,

Hilang dan sedang menunggumu. Pergilah!"

Softex.Eh salah!!Software.. :)

*Update kelen anti virus NAV kelen itu!!!

*Ad-Aware 5.83 Ad-aware is a free multi spyware removal utility that scans your memory, registry and hard drives for known spyware and scumware components and lets you remove them safely. It is updated frequently.
If you are new to Ad-aware, we recommend you read the getting started tutorial

*SwatIt Macam-macam banyak trojan,tapi gak punya duit beli software yg gak gratisan.Ini antinya yang di rekomendasi oleh dalnet. Gak percaya?Cobalah mirc kelen itu kenak trojan sesekali.Pasti di kasih situs yg tujuannya yah ke swatit ini.

*Proxy CheckerFile download utk cek proxy (324KB). .